Silaturahim atau Silaturahmi ??


Ini postingan pertama saya, entah kenapa ingin meninggalkan jejak dari tumpahan pikiran dan perasahaan ke sebuah Blog  #Aaaaiiihhh Perasaan😍 . Sebenarnya sudah dari dulu ingin menulis tapi lebih banyak pada media sosial yang lain seperti FB, dan kali ini ingin mencoba lewat blog. Bingung mau posting apa ya... hmmmm.... mikir lama....  And tralalalala... pengen share istilah silaturahmi dan silaturahim. Dua macam istilah yang kadang kita bingung sebenarnya harus pakai yang mana ya. Toh fungsinya Blog juga bisa menghubungkan Silaturahmi satu dengan yang lain yang kenal bahkan yang belum pernah kenal (eh saya benar gak ya nulis istilahnya)...yukkk  simak ulasan dibawah ini.

Silaturahim atau Silaturahmi ??

Berikut contohnya; 
Saya mau silaturahim ke rumah Mantan (ngapain coba contohnya kudu mantan, maksud disini adalah bisa juga mantan musuh saat jaman sekolah yang sering ngebully kita, atau mantan apapun deh hehehehe)  supaya panjang umur,  rezeki lancar dan enteng jodoh (Eeeeeittsss kok kearah jodoh , ya  kan rejeki gak harus berupa materi tapi bisa juga dimudahkan jodoh,,, prikitiewwww😉). Lalu sudah tepatkah contoh  tersebut? 
Contoh diatas memakai kata ‘silaturahim’. why tidak memakai silaturahmi? Sebenarnya apa pada hakikatnya sama sob? . Kalimat yang lebih tepat adalah  "Saya mau silaturahmi ke rumah Mantan (Ingettt,,,, arti mantan disini bisa mantan apapun, siapapun....hahahaa😂 )"
Silaturahim berasal dari bahasa Arab, ‘sillah ar-rahim’ (Shillah), artinya hubungan rahim; tali kasih sayang. Jadi kata ˜silaturahim"  ini merujuk pada hubungan kekeluargaan. Ikatan janin, ikatan darah daging.
Ada yang menganggap kata ‘silaturahim’ lebih tepat daripada ‘silaturahmi’. Benarkah? Seperti kita tahu, dua serapan ini sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Kata silah itu bersandar pada kata ‘silah’ (shillah), hubungan, tali. Sementara ar-rahim dan ar-rahm, ini memang ada dua bentuk nomina. Yang dimaksud bentuk nomina itu, bentuk kata benda. Kata-kata yang merujuk pada bentuk suatu benda.
Ada aura berbeda dari kata rahim dan rahmi. Rahim merujuk pada ‘tempat janin’. Sementara ‘rahmi’ terserap dari ‘ar-rahm’, kasih sayang. Ada hadis Nabi: Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya hendaklah menghubungkan rahimnya (bersilaturahim). Bahkan Nabi sangat keras bagi orang yang memutuskan hubungan: Tidak akan masuk surga pemutus (silaturahim).
Dalam ruang lingkup kampus, kenapa kita gemar memutus silaturahmi hanya perbedaan pilihan? Kenapa gemar memutus silaturahmi karena di dalam diri kita masih bersemayam ego dan impian-impian pribadi yang keluar dari nalar.
Bagi saya, silaturahim dan silaturahmi, hakikatnya mengandung makna yang sama tapi penggunaannya dalam kalimat berbeda. Dan secara harfiah berbeda. Intinya keterikatan hubungan. Siapa yang memutus hubungan pada konteks ‘tempat janin’, hubungan keluarga, ubungan anak dan orangtua, ia akan terputus dari surga yang dijanjikan Allah. (Ingat kata orangtua disambung. Disambung karena ada ikatan janin. Penulisan kata orang tua, dipisah, ini orang tua dalam makna siapa saja orang yang dianggap tua tanpa ikatan darah).
Jadi tidak boleh kita memutus hubungan (ikatan janin) dengan keluarga sendiri meski benci ke adik atau kakak, ia satu rahim. Dan pada kata rahmi, tali kasih sayang, pun sama. Tidak boleh memutus kasih sayang terhadap sesama.
Inti dari dua kata silaturahim dan silaturahmi, ada pada fungsi kata tersebut. Kata silaturahim lebih merujuk pada hubungan kekeluargaan, sementara silaturahmi bersandar pada sikap kasih sayang secara universal.
Silaturahim atau silaturahmi, dua-duanya bisa digunakan. Tapi jangan ada kalimat mari kita bangun ‘hubungan silaturahim’. Kata ‘hubungan’ ini mubazir. Kenapa ‘hubungan silaturahim atau hubungan silaturahmi’ mubazir? Karena kata silaturahim dan silaturahmi, sudah punya arti hubungan.
Oke sekian.... tulisan diatas saya copas dari http://www.uinjkt.ac.id/silaturahim-atau-silaturahmi/







Komentar